3 TIPE POLA MENYIKAPI MINAT, ANDA NOMOR BERAPA?


 
jangan sia-siakan waktumu dengan mager yang berlebih

Semua orang terlahir dengan bakat masing-masing. Namun dinamika kehidupan akan membawa mereka memiliki minat tersendiri, kegemaran, hobi, hingga profesi yang berbeda. Budaya dan trend kerap kali membentuk profesi idaman suatu generasi. Bisa jadi generasi 80-90 menjadikan profesi PNS sebagai profesi idaman mereka. Beda dengan generasi sekarang a.k.a  generasi millenial yang banyak menjadikan profesi youtuber, content creator, hingga selebgram sebagai profesi yang didambakan.
Lantas kalau semua jadi youtuber nanti siapa yang jadi petani? Kalau semua ingin jadi selebgram apakah di masa depan kita harus mengimpor guru dan dosen? Padahal tanpa petani yang berkualitas Indonesia tidak akan bisa swasembada pangan. Tanpa guru dan dosen yang mumpuni pendidikan Indonesia tidak mungkin bisa maju.
Nah, ngomong-ngomong tentang profesi, sejujurnya saya adalah pribadi yang belum konsisten dalam memikirkan profesi dambaan. Pernah tersirat hasrat jadi youtuber kayak Atta Halilintar sebelum akhirnya saya mendapatkan hidayah bahwa jadi youtuber itu nggak semudah bikin mie gelas. Untungnya saya tidak mau terjebak dalam kebingungan yang berkepanjangan. Dari pada habisin waktu buat “hanya mikir” ingin jadi apa, ya lebih baik ngopi. Eh, nyoklat juga enak, ding! Fyi, saat ini saya sangat senang sekali minum cokelat Chocolatos rasa Matcha Latte. Udah enak, murah lagi! Sangat ramah dengan kantong anak kos. Eh, kenapa jadi bahas cokelat ya? Kembali ke inti bahasan!
Setelah saya melakukan pengamatan kecil-kecilan, setidaknya ada 3 pola yang dilakukan orang-orang dalam menyikapi minatnya. Jika ada tambahan dari netizen yang budiman dapat langsung dicantumkan dalam kolom komentar, ya!
Pola Pertama
Menyukai sesuatu dan menekuninya. Banyak orang yang suka main sepak bola namun yang menekuninya dengan serius tentu tidak begitu banyak. Bahkan yang serius dalam bersepakbola hingga menjadikannya sebagai profesi pun tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Pola ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang punya semangat membara dan mental baja. Ia menyukai proses, ia bersahabat dengan kegagalan, ia bermusuhan dengan putus asa dan talak tiga dengan langkah mundur.

Pola Kedua
Tak terlalu menyukai namun menekuni. Jika Anda adalah seorang pengguna YouTube yang sering nonton channel Komtung TV utamanya rubrik gibah, nama Ridwan Remin tentu tak asing lagi. Jawara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 7 itu pernah dijadikan objek gibah oleh beberapa orang yang juga berkecimpung di dunia stand up comedy. Ridwan Remin dianggap kurang menghargai para komika lainnya, terbukti ia malas tertawa ketika menonton pertunjukkan stand up.
Namun ternyata dalam sebuah acara di Net TV dan wawancara di channel YouTube Raditya Dika, komika introvert itu mengaku bahwa sejatinya ia adalah orang yang tak terlalu menyukai stand up comedy. Namun ia sadar memiliki bakat di bidang itu, maka komika yang mirip Indra Herlambang itu pun berinisiatif mendalami dunia stand up comedy.


Orang dengan pola seperti ini biasanya memiliki kesadaran dan pandai menangkap peluang. Bukan perkara love what you doing or not, akan tetapi menghargai bakat yang diberikan Tuhan dengan cara mengasahnya dengan baik. Ridwan Remin adalah contoh kecil public figure yang melakukan pola seperti ini.

Pola Ketiga
Menyukai namun tidak menekuni. Pola minat seperti ini biasanya berbentuk ‘sekedar’ hobi. Saya punya banyak teman yang hobi bermain sepak bola namun saya tak punya satu pun teman yang jadi pesepak bola profesional. Begitu pun dengan musik, banyak teman saya yang suka bermain musik, namun yang merintis jalan menjadi musisi bisa dihitung dengan jari.

Minat yang kita miliki tak mesti bermetamorfosa menjadi profesi. Namun ketika minat dan bakat diasah dengan baik, bukan mustahil ia akan mengantarkanmu menuju titik profesi yang kelak engkau cintai. Bukan kah profesi terbaik adalah hobi yang dibayar? Ah, beruntungnya musisi yang suka musik, betapa bahagianya pesepak bola yang mencintai sepak bola.


Yogyakarta, 19 Desember 2018

Muh. Izzuddin

Komentar

Posting Komentar